Inilah Karomah dan Keistimewaan Waliyullah Jadzab “Ra Lilur”

297

Baldatuna.com – Umat Islam di Madura berduka. KH Khalilurrahman, akrab dipanggil Ra Likur, menghadap ke Rahmatullah, Selasa (10/4) malam sekitar pukul 22.00 WIB di Bangkalan, Madura.

Kabar wafatnya cucu Syaikhona Kholil Bangkalan itu dibenarkan oleh salah satu keponakannya, Ra Nasih Aschal.“Mohon doa semua para kiai dan gus, pamanda Kiai Kholilurrahman (Ra Lilur) telah wafat tadi sekitar jam 10 malam,” tulisRa Nasih Aschal, salah seorang kerabat keluarga besar Syaikhona Kholil Bangkalan dalam sebuah grup Whatsapp. “Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah,” lanjutnya.

Kiai yang akrab disapa Ra Lilur ini dikenal sebagai seorang waliyullahjadzab. Tidak seperti kebanyakan kiai lainnya, Ra Lilur lebih sering mengenakan kaos dalam dan celana pendek dengan mengenakan kopiah. Meskipun dalam keadaan menerima tamu.

Janazah dimakamkan di komplek pemakaman Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Rabu (11/4/2018) siang. Di antara para ulama dan tokoh masyarakat hadir, seperti KH Zubair Muntashor, Ketua PBNU H Saifullah Yusuf, dan sejumlah tokoh masyarkat lainnya.

Banyak kisah yang menyebutkan Kiai Kholilurrahman mempunyai karomah atau keistimewaan khusus.  Dalam terminologi ilmu sufi ada empat jenis keistimewaan yang diberikan kepada manusia.

Pertama, mukjizat. Mukjizat ini hanya diberikan kepada para Nabi. Seperti kita pahami, bentuk mukjizat bermacam-macam. Umumnya tak masuk akal. Misalnya, dari jari Nabi Muhammad tiba-tiba bisa memancar air, bisa membelah bulan dan sebagainya.

Kedua, karamah. Karamah ini diberikan kepada manusia istimewa di bawah Nabi. Jadi diberikan kepada orang tertentu yang memang disayang Tuhan. Karena itu mereka disebut wali (kekasih Allah). Wali sebenarnya tak bisa dideteksi. Bahkan dalam ajaran sufi disebutkan bahwa tak ada yang bisa mengetahui wali kecuali sesama wali. Karena itu kalau tiba-tiba ada orang mengaku wali patut diragukan.

Ketiga, mau’nah. Yaitu keistimewaan untuk orang biasa. Jadi orang biasa, tapi punya keistimewaan tertentu. Misalnya, bisa terbang atau sejenisnya.

Keempat, istidraj. Keistimewaan ini diberikan kepada orang-orang yang menentang Allah. Jadi orang-orang yang sesat pun oleh Allah diberi keistimewaan. Hanya saja keistimewaan itu hakikatnya sekedar untuk memanjakan mereka (me-lulu-bahasa Jawa). Karena kelak di akhirat ia akan disiksa habis-habisan.

Nah terkait Ra Lilur ini memang Wallahu’alam namun masyarakat meyakini bahwa beliau menuju proses menjadi Wali atau Waliyullah Jadab Majedub (suatu tahapan untuk mencapai tingkat karamah (keistimewaan) yang biasanya disebut wali) dengan segala keanehan, gila dan hal-hal diluar nalar yang lain.

Buktinya, ia sudah tak peduli masalah duniawi. Penampilannya yang sangat bersahaja, Ia total kepada Allah melalui proses spiritual kontroversial. Diantaranya berendam di air laut siang malam. Maka mudah dipahami jika ia memiliki mukasafah (kemampuan meneropong masalah yang akan terjadi) cukup tinggi. Bahkan untuk melihat peristiwa yang akan terjadi pada masa datang seolah melihat di balik tirai saja.

Banyak orang yang antri untuk menemuinya untuk mendapatkan karomahnya mulai dari petinggi negeri ini, pejabat, ulama hingga rakyat biasa namun semuanya tidak serta merta ditemuinya karena sifatnya yang ‘aneh’ tersebut. “Tamunya beragam, tapi jangan kaget kalau tak kesokan (tidak mau,red), beliau tak mau menemuinya,” tegas KH Badrus Sholeh, salah seorang ulama Bangkalan bercerita soal kenyelenehan cicit ulama Bangkalan, KH Syaikhona Mohammad Kholil bin Abdul Latif ini.

Beragam sikap nyleneh diantaranya adalah membakar pondok pesantren, naik mobil tanpa bensin, menyiapkan hidangan makan secepat kilat, berendam di laut serta memberi pil mencret untuk orang yang kehilangan sapi serta beragam lelaku lain yang kadang tidak masuk akal namun akhirnya terbukti dikemudian hari.

Berikut di antara kisah karomahnya, dikisahkan Ismael Amin Kholil:

Suatu ketika, seorang pengusaha sedang mengadakan hajatan besar-besaran dalam rangka pernikahan anaknya, laiknya orang-orang madura yang memang dikenal kecintaannya yang kuat terhadap ilmu dan ulama. Ia mengundang puluhan alim-ulama dan para kiai dalam acara tersebut (termasuk abahku yang menyaksikan dan menceritakan kejadian ini).

Sementara acara masih berjalan, datang dua orang bersepeda motor memasuki halaman acara, tepat di hadapan para kiai dan ulama. Kontan saja, keduanya langsung menjadi pusat perhatian hadirin. Yang satu pengemudi, satunya lagi adalah lelaki tua, duduk di belakangnya. Lelaki itu memakai peci putih, kaos singlet dan celana sederhana setinggi lutut, laiknya seorang petani. Ia juga membawa senter kecil di tangan.

Baca Juga  Jika di Jawa ada Wali Songo, Ternyata di Bali ada Wali Pitu, ini Daftar Alamatnya

Saat KH. Abdullah Schal (almaghfurlah) selesai membaca sholawat dan turun dari panggung, lelaki tua itu segera menaiki panggung. Tak ada satupun yang berani menegur atau menghalanginya. Semua seakan-akan sedang menunggu apa yang akan dilakukan orang ini.

Ia mengambil mic dan mulai berceramah. Subhanallah, dengan bahasa Arab yang fasih ia mulai mengkritik dan menasehati para ulama zaman sekarang yang mulai terlena oleh perkara-perkara duniawi. Sebuah pemandangan yang unik. Di hadapan para kiai dan ulama, seorang kakek berpakaian petani itu nampak bagaikan seorang syaikh yang sedang memberi petuah kepada murid-muridnya.

Selesai berceramah, ia langsung menuju sepeda motornya. Supirnya sudah menunggu. Shabihul bait sampai menangis demi mengejar lelaki tua itu. Ia mencium tangannya lalu memberi sebuah amplop tebal yang entah berapa isinya. Namun lelaki tua itu menggeleng dan menolak mentah-mentah. Ia segera menaiki sepedanya dan beranjak pulang.

Lelaki tua itu adalah Kiai Kholilurrahman atau yang biasa dipanggil dengan Ra Lilur, salah satu cicit Mbah Kholil Bangkalan yang terkenal sebagai wali jadzab. Mulai saat itu, orang-orang yang dulu hanya mengetahui Ra Lilur sebagai sosok yang nyeleneh, akhirnya mulai mengakui kealiman beliau. Padahal konon beliau hanya pernah mondok selama tiga bulan.

Meski sulit ditemui, alhamdulillah saya pernah bertemu beliau di kediamannya di desa Banjar (sekitar 15 menit dari rumah). Wajah beliau persis seperti sabda Nabi ketika menerangkan ciri-ciri ulama akhirat, yakni “mereka yang ketika dipandang wajahnya akan mengingatkan kita kepada Allah”.

Bagi saya, beliau adalah sosok yang mewarisi kezuhudan Syaikhona Kholil. Beliau berpakaian seperti itu bukan tanpa alasan. Hanya ingin memberi pesan bahwa semua yang ada di dunia ini akan menuju ke-fana-an.

Konon, sambil menangis sesenggukan, beliau pernah berkata (dengan Bahasa Arab) kepada salah satu tamunya:”Kalau ulama sudah lupa kepada kedudukannya dan mencintai harta serta kemewahan, berat, berat, dihadapan Allah SWT. Dampaknya, mereka akan pecah. Ya, Allah, selamatkanlah mereka”.

Keliling Kota tanpa Bensin

Kita jadi teringat kisah Syaikhona Kholil, yang saat itu baru mendapat hadiah sarung mewah dari salah satu pencintanya. Beliau justru menangis dan berkata: “aku takut ini akan mengurangi pahalaku kelak di akhirat”.

Keanehan yang ditunjukkan oleh Ra Lilur memang seolah tak pernah habis. Orang-orang yang pernah menyaksikan langsung perilaku Ra Lilur selalu dibuat geleng-geleng kepala. Maklum, banyak peristiwa tak masuk akal, namun terjadi secara nyata. Suatu ketika, Ra Lilur memanggil ajudan kepercayaannya, H. Husni Madani. Saat cicit Syaikhona Kholil Bangkalan itu minta agar Husni menemaninya jalan-jalan di Surabaya. Permintaan itu langsung diiyakan.

Berikutnya, Ra Lilur minta agar ajudannya menyewa sebuah mobil berikut sopirnya. Setelah rampung, keduanya berangkat ke Surabaya. Anehnya, ketika sang sopir hendak mengisi bensin, Ra Lilur melarang. “Sudah tak usah isi bensin,” kata Ra Lilur. Karena tahu siapa Ra Lilur sebenarnya, sang sopir langsung tancap gas menyeberangi Selat Madura. Ia melesat ke Surabaya. Di kota pahlawan ini sehari penuh kendaraan yang ditumpangi Ra Lilur melaju. Tapi uniknya, tak sedikitpun jarum spido penunjuk bensin turun.

“Sepanjang jalan saya terus mengawasi jarum penunjuk bensin. Tapi bensinnya tetap penuh. Saya jadi heran, lha wong bensin tidak diisi sama sekali, tapi tidak habis,” tutur Husni heran. Uniknya lagi, ketika kembali ke Desa Banjar Galis, Bangkalan Madura, tangki bensin tetap tidak berubah alias full tang. “Kalau dipikir, bahan bakar kendaraan itu siapa yang ngisi ya,” kata ajudan kepercayaan kiai jadab ini.

Kejadian seperti itu sering disaksikan Husni. Pernah suatu ketika Ra Lilur mengajak Husni keliling Kabupaten Bangkalan. Saat itu, Ra Lilur menyewa sebuah mobil pick up. Sang sopir diminta untuk menuruti permintaannya. Seperti halnya kejadian yang lalu, ketika sang sopir hendak mengisi bahan bakar, Ra Lilur melarang. Lagi-lagi orang yang mengikuti perjalanan kiai kasaf ini terheran-heran. Karena sejak berangkat hingga pulang bensinnya tetap pada posisi awal.

Ulama akhirat seperti Ra Lilur ibarat paku bumi, yang dengannya Allah masih tetap menjaga bumi ini dari adzab yang sudah menunggu turun akibat dosa-dosa yang telah dilakukan oleh para pendosa seperti kita.

ولولاهم بين الأنام لدكدكت * جبال و أرض لارتكاب الخطيئة

Artinya: “Andai tiada mereka (para wali) ada di antara para manusia # Maka banyak gunung dan bumi akan gonjang-gonjing akibat perbuatan dosa (manusia)”.

Semoga Allah memberi rahmat dan ampunan-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *